Di Balik “Tapa Wuda” Ratu Kalinyamat yang Fenomenal

Pertapaan Ratu Kalinyamat
Pertapaan Ratu Kalinyamat di Desa Tulakan Kecamatan Donorojo, Kabupaten Jepara. 

Jepara – Sebuah tempat di Desa Tulakan Kecamatan Donorojo, Kabupaten Jepara kono menjadi lokasi pertapaan Ratu Kalinyamat. Konon Ratu Kalinyamat melakukan pertapaan “tapa wuda” atau semedi di petilasan tersebut. Lalu seperti apa kisah tapa wuda Ratu Kalinyamat tersebut? 

Pertapaan Ratu Kalinyamat ini berada di Desa Tulakan Kecamatan Donorojo. Jarak dengan pusat Kota Jepara 36 kilometer atau ditempuh dengan berkendara sekitar 60 menit. 

Juru kunci petilasan Ratu Kalinyamat, Muchlisin mengatakan tapa wuda yang dilakukan oleh Ratu Kalinyamat bukan terkandung masuk tapa atau bersemedi tanpa busana. Melainkan semedi dengan melepaskan busana keraton dan memakai busana layaknya rakyat biasa. 

“Yang dimaksud dengan tapa wuda senjang rambut, khususnya untuk Ratu Kalinyamat bukan untuk telanjang bulat itu bukan. Beliau wuda itu dalam arti melepaskan busana keraton, tapi memakai pakaian layaknya rakyat bias,” jelas Muchlisin belum lama ini. 

“Jadi beliau ketika semedi di sini tidak memakai busana keraton tetapi memakai pakaian layaknya rakyat biasa. Maka orang Jawa mengatakan Ratu kok tidak memakai busana keraton maka dianggap dianggap wuda, bukan berarti telanang bulat itu bukan,” begitu lanjutnya. 

Ia menerangkan bahwa Ratu Kalinyamat melakukan pertapaan di Desa Tulakan. Dulunya tempat yang dijadikan pertapaan Ratu Kalinyamat tersebut merupakan hutan berantara dan belum banyak dihuni oleh manusia. 

“Ini pertapaan Ratu Kalinyamat, dulunya Ratu Kalinyamat bertapa di sini. Lah mengapa Ratu Kalinyamat bertapa di sini?,” ucapnya. 

Tujuan Ratu Kalinyamat melakukan pertapaan di lokasi tersebut bertujuan untuk meminta keadilan kepada Allah. Hal tersebut dilakukan setelah suami Ratu Kalinyamat, bernama Sultan Hadirin dibunuh oleh Arya Penangsang. Maka Ratu Kalinyamat bersemedi meminta kepada Allah agar pembunuh suaminya mendapatkan balasan yang setimpal. Oleh karena itu Ratu Kalinyamat melakukan semedi di pertapaan tersebut. 

“Kalau orang Jawa mengatakan semedi, yang dinamakan tapa wuda senjang rambut itu di sini. Untuk meminta kepada Allah meminta keadilan agar pembunuh suaminya diberikan hukuman yang setimpal dari Allah,” ungkapnya. 

Menurutnya banyak orang datang berziarah ke tempat pertapaan Ratu Kalinyamat. Mereka datang bermaksud untuk napak tilas di lokasi pertapaan ratu di Jepara. Hari yang paling keramat warga datang ke pertapaan yakni, Rabu Wage. 

“Hari biasa ada tamu yang datang ke sini, terutama mereka punya hajat berwasilah bertawasul meminta kepada Allah dengan wasilah kepada Ratu Kalinyamat dan napak tilas, karena pada waktu itu doanya dikabulkan oleh Allah di tempat ini. Maka anak cucu ketika punya hajat ke sini, agar hajatnya dikabulkan oleh Allah seperti Ratu Kalinyamat,” ungkapnya.

Berikut video cerita tentang Ratu Kalinyamat; 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sederet Cerita Kesaktian Mbah Jenggolo Murid Sunan Kudus yang Jadi Cikal Bakal Desa Janggalan

Ketika Sejarah Dikendalikan Oleh Penguasa Orde Baru

Mengenal Alas Lamin, Pati, Konon Ada Lubang Bekas Pembantaian yang Masih Misteri