Sejarah Pati
Menelusuri
Sejarah Kabupaten Pati
oleh :
Dian Utoro Aji
Wilayah Pati bermula terletak
diantara gunung Muria yang kira – kira 500 tahun lalu masih terpisah dan
merupakan pulau tersendiri, dan sungai Silugonggo. Dengan keterangan tersebut,
menunjukan bahwa daerah – daerah dahulu merupakan laut/selat yang karena
pendangkalan akibat lumpur yang dibawa banjir, akibat erosi lereng Muria dan
Pegunungan Kendeng maka menyebabkan selat Silugonggo menjadi sempit dan menjadi
sungai Juwana sekarang. Hal ini dapat dibuktikan dengan di daerah tepi selatan
sungai Juwana, Kecamatan Pati (daerah Widorokandang), Sugiharjo, dan daerah
Kecamatan Juwana juga terdapat daerah – daerah rendah yang kondisi tanahnya
lembek, semisalnya di desa Glonggong dan apabila tanahnya digali mengandung
kerang – kerang laut. Wilayah Pati sekarang dengan luas 1.473,97 Kilometer
persegi (Km2), terletak pada
6,5 s/d 7,0 Lintang Selatan dan 110,5 Bujur. Ternyata berawal dari abad ke X –
XI daerah pati sudah maju dalam perdagangan dan pertanian. Namun pada kenyataan
bahwa pada abad XII-an daerah Pati telah terbagi 3 Kadipaten yaitu Kadipaten
Paranggarudo di dareah Godo Kecamatan Winong sekarang, Kadipaten Carangsoko di
daerah Wedarijaksa, dan Kadipaten Majasem di sekitar desa Mojoagung Kecamatan
Trasngkil.
Kadipaten Paranggaruda
Terdapat pemerintahan pada abad XII
ialah Kadipaten Paranggaruda yang pusatnya sekarang di desa Godo, Kecamatan
Winong. Hal ini terbukti dengan adanya peninggalan kuno yang berupa yoni
(umpak) serta batu – bata dalam ukuran besar(batu bata kuno). Di samping itu
terdapat bekas peninggalan yang dikeramatkan berupa petilasan dan 3 pohon
besar, pada tempat tersebut terdapat pasar desa.
Desa Godo sekarang ini dilintasi
oleh sebuah sungai Tambar Godo yang bermata air di bukit Kendeng Utara, sebelah
selatan desa Godo, mengali ke utara bergabung dengan sungai sungai ke arah
sungai Juwana (Cajongan), akhirnya ke laut Jawa.
Pada abad ke XII Kadipaten
Paranggaruda tidak jauh dari aliran selat muria yang kemudian menjadi
Silugangga. Bumi Paranggaruda diceritakan sebagai daerah gemah ripah,
“Gemah”(banyak orang melakukan perdagangan), “Ripah”(banyak orang dari luar
daerah yang berdatangan kesana). Daerah yang “karta tur rahardja”, kerta :
berarti kawula hidup tentram, dan rahardja: berarti tidak ada yang mengusik.
Daerah itu pula disebut daerah yang loh jinawi, sebab loh jinawi itu memiliki
arti apa yang ditanam pasti tumbuh dengan subur, dan apa yang dibeli musti
murah, sebab semuanya tersedia. “Loh” berarti tukul kang sarwo tinandur.
Meskipun dareah tersebut belum mempunyai saluran yang teratur, karena pada
waktu itu masih merupakan daerah/persawahan tadah hujan.
Kadipaten Paranggaruda diperintah
oleh seorang Adipati yang bernama Yudhapati. Adipati Yudhapati dari perkataan:
Yudha = perang. Dalam perjalanan pemerintahannya dibantu oleh seorang Patih
bernama Singopati yang bertempat tinggal di Kropak (di Kecamatan Winong). Sedangkan sebagai tamtama bernama
Yuyurumpung. Yuyurumpung ini mempunyai orang kepercayaan bernama Sondong
Majeruk, di desa Majeruk di Kabupaten Rembang sekarang. Para bekel atau demang
– demang yang menjadi penguasanya adalah Demang Gendala, Demang Semut, Demang
Gunungpanti, Demang Tlagamaja dan Demang Jembangan (sekarang disebut Batangan).
Adipati Yudhapati mempunyai anak
laki – laki bernama Raden Bagus Menak Jasari yang kemudian hari diharapkan akan
menggantikan tahta memegang Adipati di Paranggaruda. Karena Raden Bagus Menak
Jasari sebagai anak tunggal maka segala permintaaan selalu dikabulkan, tetapi
sayang Raden Bagus Jasari ini mempunyai potongan tubuh cacat yaitu pendek
leher, tangan terlalu panjang, kaki pengkor, jari – jari tidak normal dan
seluruh tubuhnya banyak burik. Pada waktu itu menginjak dewasa Raden Jasari
akan dijodohkan dengan putri dari Carangsoka yang bernama Dewi Rayung Wulan.
Maka Raden Yudhapati utusan patih Singpati untuk melamarnya. Dewi Ruyung Wulan
bersedia untuk dininakahi dengan Raden Jasari akan tetapi pada hari
pernikahannya minta diarak kesenian wayang kulit dengan dalang Sapanyana dan
peralatan wayang kulit, gamelan tersebut dapat datang sendiri dan berbunyi
sendiri. Pada waktu Singapati melapor kepada Adipati Yudahapti perihal
permintaan Dewi Ruyung Wulan, maka disitu terdapat pula Yuyurumpung. Mendengar
permintaan tersebut Yuyurumpung menyanggupi untuk menyiapakannya. Singkat cerita apa yang diminta Dewi Ruyung
wulan terpenuhi, namun ketika hari pernikahannya dengan Raden Jasari, Dewi
Ruyung Rumpung kabur dengan dalang Sapanyana, dan terjadi kekeribut dalam acara
pernikahan tersebut. Dalam pelarian tersebut disertai oleh Dewi Ambarwati dan
Ambarsari, dan pada suatu tempat ketemu dengan Raden Kembangjaya di dukuh
Bantengan (Kecamatan Trangkil sekarang). Kemudian keempat orang tesebut diajak
di Majasemi. Pada akhirnya Dewi Ambarwati diambil istri Raden Sukmayana, dan
Dewi Ambarsani diambil istri Raden Kembangjaya.
Sedikti mengenai Ki dalang Sapanyana
Ki Dalang Sapanyana adalah
keponakannya Buyut Sabirah (Nyai Ageng Bakaran) yang semula bernama Nyai
Banowati. Sapanyana sebelum datang ke Juwana merupakan pelarian dari Jawa
Timur. Setelah membantu Raden Kembangjaya mendirikan Kadipaten Pesantenan
kemudian diangkat menjadi Patih di Kadipaten tersebut, dan namanya diganti
menjadi Raden Singasari.
Di daerah Purwodadi ada tempat untuk
menyepi Dalang Sapanyana sebelum diangkat Patih di Kadipaten Pesantenan,
terdapat petilasannya dan sampai sekarang dipergunakan nyepi para calon dalang.
Sedangkan di desa Bakaran Wetan, Kecamatan Juwana juga terdapat petilasan
berupa gilang yang bertekuk di mana dikatakan merupakan tempat duduk Ki Dalang
Sapanyana apabila sedang mendalang. Sampai sekarang petilasan tersebut
dikeramatkan dan banyak dikunjungi orang.
Kadipaten Carangsoka
Kadipaten Carangsoka disebut dengan:
“Ngungkuraken Pareden, ngungkangken Badaran Agung” dengan arti bahwa Kadipaten
Carangsoka berada di belakang gunung Muria dan di mukanya adalah pelabuhan
(pelabuhan Juwana).
Kadipaten Carangsoka keadaannya
relatif lebih subur daripada Kadipaten Paranggaruda. Hal ini dapat dimengerti
bahwa banyak sungai – sungai yang melintasi daerah tersebut antara lain: kali
Sani, kali Gungwedi, kali Kersula, dan kali Tayu, sehingga daerah tersebut
menjadi subur. Disamping itu Kadipaten Carangsoka mempunyai pertanian yang
meningkat dan penghasil perikanan berupa ikan laut di pantai timur dan
perikanan darat. Hasil perkebunan juga tidak kalah penting berupa buah – buahan
dan sayur – sayuran yang meilmpah ruah. Hasilnya dijual ke pelabuhan Juwana(Cajongan)
sehingga dapat dinikmati oleh orang lain.
Kadipaten Carangsoka dipimpin oleh
seorang Adiapati bernama Raden Puspahandungjaya yang memiliki sifat “berbudi bawa laksana” dengan Patihnya
yang merangkap jaksa bernama Raden Singapandu, bertempat tinggal di desa Nguren
sekarang. Sehingga atas pemerintahan tersebut Kadipaten Carangsoka dalam
suasana aman dan tentram. Adapun sebagai tamtama adalah Sondong Makerti yang
sakti mandraguna, trengginas dan trampil mengenai olah prajurit dan bertempat
tinggal di Wedari serta mempunyai lembu sakti
“sapi gumarang”.
Adipati Puspohandungjaya mempunyai
seorang adik ipar yang sakti, masih muda, pandai dan cekatan yang dapat
memberikan dan saran dalam menjalankan pemerintahan di Carangsoka, bernama
Raden Sukmayana dan bertempat tinggal di Majasemi (Mojoagung sekarang). Selain
itu Adipati mempunyai putri bernama Dewi Ruyung Wulan yang seperti telah
disebutkan dilamar oleh Raden Jasari putra Raden Yudhapati dari Paranggaruda.
Di dalam acara tersebut Dewi Ruyung Wulan melarikan diri bersama dalang
Sapanyana.
Sedikit mengenai keberadaan Raden
Kembangjaya
Di suatu desa yang sekarang berada
di dekat dengan Kecamatan Trangkil terdapa sebuah dukuh Bantengan. Di pedukuhan
ini bermukim seorang pemuda, adik Raden Sukmayono bernama Raden Kembangjaya.
Raden Kembangjaya kesenangannya bertapa memohon kepada Yang widhi dan berpuasa,
berdoa mengunjungi tempat – tempat suci agar kelak kemudian hari mendapatkan
karunia dan dapat mengabdi diri untuk kebahagiaan manusia, demi kesejahtraan Nusa
dan Bangsanya. Raden Kembangjaya dalam mengelola kebun dan tegalannya dibantu
oleh 2 orang pembantunya yang setia.
Raden Kembangjaya dalam membantu
kakaknya Raden Sukmayana melawan Adipati Paranggaruda dapat mengalahkannya
dengan memegang pusaka keris “Rambut Pinutung dan Kuluk Kanigara”. Sedangkan
Raden Jasari dapat ditaklukan oleh Raden Sapanyana di hutan Kemiri. Pada waktu
peperangan Raden Sukmayana luka berat namun tidak meninggal dunia. Dari
kemenangan dalam peperangan tersebut Raden Kembangjaya diserahi Dewi Ruyung
Wulan selain Dewi Ambarsari.
Setelah Raden Puspohandungjaya
menginjak usia lanjut, maka segala isi Kadipaten di serahkan kepada Raden
Kembangjaya. Sehubungan Kadipaten
Paranggaruda telah kalah perang, maka Raden Kembangjaya menyatukan 3 Kadipaten
yaitu Kadipaten Carangsoka, Kadipaten Paranggaruda, dan Kadipaten Majasem.
Dengan demikian, Raden Kembangjaya
dan Raden Sapanyana membabat hutan kemiri. Hutan kemiri konon karena banyak
ditumbuhi pohon kemiri sehingga kelak nama daerah ini menjadi Desa Kemiri,
bahkan terdapat seperti alat peninggalan yaitu Genuk Kemiri. Selanjutnya
segeralah hutan tersbut dibabat untuk Kadipaten atau pusat pemerintahan.
Alkisah ketika sedang sibuknya
membabat hutan kemiri, datanglah seorang penjual “dawet” bernama Ki Sagola yang
berniat mengaturkan minuman dawet tersebut kepada Raden Kembangjaya beserta
seluruh aparanya. Raden Kembangjaya merasa terkesan akan minuman tersebut yang
manis dan segar,maka ditanyakan nama minuman dan dibuat dari apa dawet itu. Ki Sagola
menjelaskan sebagai berikut, “dawet” dibuat dari “pati aren yang diberi santan, gula aren/kelapa”. Mendengar jawaban
tersebut Raden Kembangjaya seperti mendapat firasat kemudian bersabda: “Manakala
nanti alam kemiri telah selesai dibabat serta telah terbangun, maka Kadipaten
di Carangsoka akan dipindahkan ke Kemiri dan akan di beri nama KADIPATEN
PESANTENAN”.
Berdirinya Kadipaten Pesantenan ini
sejajar dengan berdirinya Kerajaan Majapahit yang belum menjadi besar, dan pada
waktu itu Kerajaan Pajajaran sudah mulai surut hampir punah. Di Kadipaten
Pesantenan Raden Kembangjaya mengganti nama menjadi Raden Jayakusuma I.
Peninggalan
– peninggalan yang masih ada berkaitan dengan berdirinya Kadipaten Pesantren
Ø Pohon
beringin kembar
Di sekitar makam terdapat 2 batang pohon beringin
sekurang – lebihnya setinggi 30 meter. Melihat besarnya batang dan sulur –
sulur yang ada, kemudian membandingkan pohon beringin yang ada di alun – alun
Kraton Surakarta maupun Yogyakarta, ternyata diameternya lebih besar pohon
beringin lebih besar pohon beringin di Kemiri.Dengan demikian pohon beringin di
Kemiri lebih tua daripada pohon beringin yang berada di Surakarta dan
Yogyakarta. Diperkirakan umur pohon beringin di Kemiri sekitar 600 – 700 tahun.
Ø Genuk
Kemiri
Genuk Kemiri oleh penduduk menamakan “gentong”,
terletak 60 meter dari pohon beringin, pada saat sekarang keadaan “genuk” sudah
pecah bagian atas. Seperti kita ketahui bersama bahwa genuk kemiri ini dianggap
bertuah dan keramat. Pada hari – hari tertentu yaitu hari Kamis malam Jumat
banyak orang yang berkumpul untuk sesaji dan nyepi. Oleh karena ada seorang
Belanda pada waktu zaman kolonial yang
tidak senang adanya orang berkumpul, maka disepaklah genuk Kemiri tersebut
sehingga bibir atau genuk pecah. Hal ini dimaksudkan oleh Belanda supaya tidak
banyak orang berkumpul di situ yang diperkirakan akan menentang Belanda. Sampai
saat ini bibir genuk Kemiri pecah.Menurut cerita apabila ada orang yang sedang
berziarah, apabila dalam gentong dilihat adanya air penuh, berarti peziarah
akan mendapatkan banyak rejeki, namun ketika airnya tidak kelihatan/asat,
berarti peziarah tidak mempunyai rejeki.
Kadipaten Majasem
Sudah disebutkan bahwa ipar Adipati
Puspohandungjaya bernama Raden Sukamayana, dianugrahi tanah garapan seluas 100
bahu dan mengepalai penduduk di daerah Majasemi dan sekitarnya. Raden
Sukamayana dihormati warga setempat, karena Raden Sukamayana dalam
penampilannya tidak seperti kebanyakan orang biasa/pedesaan. Ia memiliki wajah
yang cerah, soort mata tajam karena bening, berkulit kuning bersih. Sikap dan
perilakunya sehari – hari tidak memberikan kesan yang kasar, meski tidak banyak
bicara namun senyumnya tidak pernah berhenti, tidak ada perbedaan antara orang
kaya dan yang miskin.
Majasemi meskipun wilayah pedesaan,
tetapi sudah diatur sedemikian rupa sehingga tertata rapi dan asri dengan
tanaman bunga di tepi jalan – jalan. Tegalan – tegalan mendapat pengairan dari
sebuah sendang yang tidak pernah habis airnya walau musim kemarau. Untuk
daratan rendah ditanami bahan pangan, sedangkan yang daerahnya tinggi ditanimi
dengan berbagai jenis buah – buahan. Bahan pangan maupun buah – buahan ini
selain mencukupi kebutuhan sendiri juga dijual ke lain daerah.
Dalam memegang tampuk kekuasaan
pemerintah Adipati Sukamayana mempunyai 2 buah pusaka yaitu “Kuluk
Kanigara dan Keris Rambut Pinutung” sebagai pusaka Kadipaten. Yang
kemdian dari dua pusaka tersebut menjadi lambang daerah kabupaten Pati yang
mempunyai arti sejarah penting baik budaya dan sosial ekonomi di Pati. Adapun
identitas yang menonjol dalam Lambang Daerah Pati sebagai titik tolak budaya
dan sejarah berdirinya negeri Pati tergambar dalam:
Ø Keris
Rambut Pinutung, yang pada saat itu merupakan senjata pusaka Kadipaten dan
dapat diartikan sebagai lambang Kejayaan Pati.
Ø Kuluk
Kanigara merupakan busana istana yang pada saat itu merupakan pusaka Kadipaten
Pati yang merupakan lambang dasar kesatuan dan persatuan rakyat Pati.
Ada
beberapa penjelasan mengenai cerita rakyat setempat dalam artian ini rakyat
Pati yang betul – betul sampai sekarang sangat ditakuti oleh masyarakat, yaitu
hari naas bagi masyarakat yaitu hari Jumat Wage. Jumat Wage dikatakan sebagai
hari naas dan hari sial, karena pada hari tersebut adalah hari wafatnya Adipati
Pragola Djayakusuma II. Pada waktu itu berperang melawan Panembahan Senapati
dari Mataram, karena Adipati Pragola Djayakusuma II disangka mbalela/tidak
patuh dan sakit hati. Sehingga tidak mau menghadap kepada Panembahan Senapati.
Akibatnya wafat mendapat tusukan tumabk Kyai Pleret dari Panembahan Senapati,
sehingga sampai sekarang hari Jumat Wage dipercaya masyarakat Pati sebagai hari
naas atau sial.
Di Kadupaten Pati terdapat pula sejarah
mengenai asal usul dan fenomena di wilayah yang masih dalam kesatuan
pemerintahan Kabupaten Pati, adalah sebagai berikut :
Ø Dukuh
Ranggawangsa, adalah nama dukuh/desa dimana diambil dari nama pemimpin desa
pada saat terjadi kekacauan pemerintahan di Kadipaten Pati, maka Pati
diperintahkan oleh 4 orang Ki Ageng Ranggawangsa, Ki Ageng Plangitan, Ki Ageng
Jiwonolo dan Ki Ageng Jambean yang masih membawani/menguasai wilayah di dalam
kesatuan pemerintahan Kadipaten Pati. Kemudian setelah mereka meninggal dimakamkan di wilayah
tersebut dan diberi nama sesuai dengan nama Ki Ageng yang bersangkutan.
Ø Kemiri,
nama ini diambil dari nama pohon yang ada pada waktu itu, ialah sewaktu Raden
Kembangjaya membuka hutan di dukuh tersebut banyak ditumbuhi pohon Kemiri, maka
kemudian hari desa tersebut diberi nama Kemiri. Pada saat sekarang desa Kemiri
terkenal dengan para pembuat makanan khas Pati, yaitu “nasi soto kemiri”. Soto
kemiri penjual dan pembuatanya khusus orang dari desa Kemiri, yang sekarang
bernama Sarirejo. Kekhasnya nasi soto kemiri terletak pada pembuatan kuahnya di
mana bmbu kuah ada yang memakai buah kemiri, dan airnya dari santen kelapa.
Ø Desa
Kosekan, lokasinya berada disebelah barat sungai Juwana (jembatan Tanjang
sekarang) karena masyarakat sekitarnya mengambil kerang kecil. Sebab daerah
tersebut dahulunya merupakan selat Muria/selat Silugonggo.
Ø Desa
Rendole, mempunyai cerita pada waktu Raden Rangga Jaya membawa pintu Kaputren
Majapahit untuk dipersembahkan kepada Sunan Muria, tetapi akan direbut oleh
Raden Keboanyabrang. Dalam peperangan karena sama – sama digdaya dan sama –
sama perwira bendole. Hingga terjadi kata – kata lore dan bandole dan peperangan sampai lelah di suatu tempat yang
nantinya akan dinamakan gabungan dari kata tersebut, yaitu ro dan le. Sehingga
kalau digabungkan menjadi “rendole” dan kemudian nama desa tersebut di mana
Pintu Gerbang Majapahit berada.
Ø Getakan,
adalah nama sebuah dukuh di kelurahan Pati Wetan yang terkenal sebagai tempat
pengrajin gerabah, yaitu berupa genting, peralatan dapur yang bentuknya sama
dengan bentuk perkakas dari tanah di museum Trowulan, Mojokerto.
Ø Patihan,
sebuah dukuh di desa Gajihan, Kecamatan Gunungwungkal yang memberikan bukti
bahwa di desa tersebut pernah dihuni oleh seorang Patih.
Ø Bendar,
sebuah desa di Kecamatan Juwana yang dahulunya adalah merupakan
bandaran/sebandar (pelabuhan) dekat laut dan dikuasai oleh seorang syahbandar
(penguasa pelabuhan).
Semoga informasi ini memberikan pengetahuan yang tidak sedikit namun bermanfaat tidak banyak bagi pembaca. terima kasih
BalasHapus