Sekilas Kebijakan Soekarno Di Pucuk Pimpinan Hingga Jatuhnya Seoharto Dalam Kursi Presiden Republik Indonesia
Sekilas Kebijakan
Soekarno
Di Pucuk Pimpinan Hingga Jatuhnya Seoharto Dalam Kursi Presiden Republik
Indonesia
Oleh
: Dian Utoro Aji, sej.
Terlepas dari siapa sebenarnya
penulis, penulis dalam kesempatan ini berupaya untuk menyajikan tulisan
mengenai kebijakan-kebijakan yang dilakukan oleh Soekarno hingga Soeharto untuk
memajukan Negara Kesatuan Republik Indonesia ini. Kebijakan-kebijakan yang
dilakukan yang mana terdapat sisi positifnya dan negatifnya. Dari hal-hal yang
positif dan negatif sehingga dapat dijadikan sebuah pembelajaran sejarah untuk
belajar menjadi orang bijaksana.
Ketika berakhirnya Republik
Indonesia Serikat Soekarno melaksanakan sebuah demokrasi yang bernama demokrasi
Parlementer. Di mana dalam demokrasi ini banyak kabinet-kabinet yang dibentuk
oleh Soekarno mengalami pergantian yang sangat cepat. Sehingga dalam proses
pembangunan Negara hanya sebuah angan-angan belaka. Kabinet-kebinet yang
memerintah ketika demokrasi parlementer yaitu kabinet Natsir, Soekiman, Wilopo,
Ali Wangsa I, Burhanudin Harahap, Ali Wangsa II, dan Kabinte Djuanda.
Hal yang menarik yaitu bagaimana
prestasi-prestasi yang dicapai oleh cabinet-kabinet salah satunya yaitu
pelaksananaa KAA dan Pemilu pertama di Indonesia pada masa kabinet Ali I dan
Burhanudin. Akan tetapi dalam kenyataannya bahwa cabinet-kabinet tersebut
mengalami kejatuhan yang sangat cepat. Hal ini disebabkan karena dalam
pelaksanaan program-program kerjanya menyalahgunankan apa yang seharunya
dikerjakan. Misalnya kabinet Soekiman ternyata pro terhadap barat sehingga
dalam hal ini tidak sesuai dengan kebijakan Politik Luar Negeri yang bebas dan
aktif.
Akibat dari pemerintahan yang sering berganti dan
pembangunan yang direncanakan hanya tulisan belaka maka di daerah-daerah
terjadi mosi ketidakpuasan terhadap pemerintah. Hal ini yang menyebabkan
peristiwa-peristiwa pemberontakan di daerah-daerah seperti pemberontakan Andi
Aziz, DI/TII, PRRI, RMS, dan sebagainya. Sehingga pemerintah dengan segera
untuk melaksanakan pemilu sebagai otonomi daerah. Pemilu ini terlaksana pada
masa kabinet Burhanudin Harahap di mana pemilu yang terlaksana pada tahun 1955
memilih DPR dan Anggota Dewan Konstituante.
Hasil pemilu melahirkan 4 partai politk besar yang
berkuasa pada masa tersebut yaitu PNI, masyumi, NU, dan PKI. Dari 4 partai
tersebut keinginan presiden Soekarno menjadikan 4 kaki besar yang menopang
pemerintahanya pada masa tersebut. Akan tetapi bahwa ketidak ikutsertakan PKI,
sehingga Seokarno merasa ketidak cocokan dengan hal tersebut. Dari peristiwa
ini yang mana menimbulkan kabinet Djuanda dibubarkan.
Peristiwa lain yang menarik bahwa hasil pemilu 1955 yang
menentukan dewan Konstituante tidak mampu untuk menetapkan UUD 1945
menggantikan UUDS 1950. Sehingga Soekarno mengeluarkan apa yang disebut dengan
Dekrit Presiden 1956, yang salah satunya isinya membubarkan konstituante.
Selanjutnya yang menarik bahwa Seokrano memberlakukannya sistem demokrasi
Terpimpin. Akan tetapi dengan Seokarno memberlakunya demokrasi terpimin maka
kekuasaan terpusat pada seorang presiden. Hal ini yang mengakibatkan banyak pro
dan kontra atas berlakunya hal tersebut.
Di lain pihak atas kebijakan-kebijakan Seokarno adapula
pihak-pihak yang tidak puas terhadap kebijakan yang diambil oleh Seokarno.
Dalam hal ini ada versi yang mengatakan bahwa latar belakang dari munculnya
peristiwa G30S adalah mosi ketidakpuasan terhadap Soekarno dalam menjabat
sebagai presiden sehingga ingin menggulingkan Seokarno sebagai presiden.
Kemudian muncullah istilah kudeta merangkak, Sebenarnya dilihat dari istilahnya
saja ini menunjukan bahwa yang melakukan pihak-pihak tentara, yang kemungkinan
ada versi yang mendalangi peristiwa G30S adalah Angkatan Darat.
Peristiwa G30S yang mana hingga saat ini masih
kontroversi merupakan kejadian penting yang terjadi di masa lalu. Di mana
perstiwa G30S yaitu penculikan dan pembunuhan terhadap Jendral-jendral Angkatan
Darat yang dikala itu mengalami konflik. Peristiwa G30S merambat ke
daerah-daerah lain, akan tetapi peristiwa G30S yang paling mengerikan terjadi
di Jakarta dan Jawa Tengah. Dari peristiwa ini presiden Soekarno memutuskan
untuk memberikan surat perintah kepada Seoharto selaku Pangkopkamtib untuk
mengamanakan daerah-daerah akibat dari peristiwa G30S.
Supersemar yang mana surat petintah sebelas maret yang
ditulis oleh Seokarno untuk melaksanakan pemerintahnya dengan mengamankan
daerah-daerah yang terjadi peristiwa G30S. Akan tetapi bahwa supersemar
tersebut yang menjadikan peralihan kekuasaan antara Seokarno dengan Seoharto
yang hingga saat ini mengenai Supersemar massih mengalami kontroversi.
Dari peralihan ini lah yang kemudian presiden selanjutnya
diambil alih Seoharto, yang kemudian lahirlah Orde Baru. Orde Baru dimana melakukan
kebijakan-kebijakan untuk memperbaiki tatanan Negara yang masih "semrawut".
Hal ini diterapkan dalam apa yang dinamakan dengan Trilogi pembangunan. Salah satu
dari trilogi pembangunan yaitu stabilisasi ekonomi. Dari pembangunan Orde barupun
dilakukan yang tertuang dalam Rencana Pembangunan Lima Tahun (Repelita) yang disusun
tahap pembangunannya Repelita I-Repelita V.
Pembangunan-pembangunan yang dilakukan masa Orde Baru
dalam bidang ekonomi seracar pesat berlangsung. Akan tetapi bahwa pembangunan di
masa Orde Baru yang bersentral sehingga muncul kesenjangan ekonomi di daerah-dearah
yang terdepan. Hal inilah yang mengakibatkan terjadi mosi ketidak puasan terhadap
pemerintah. Selain itu pula bahwa masa orde baru terjadi kekuasaan yang mutlak.
Sehingga para mahasiswa merasa bahwa Seoharto tidak layak untuk terpilih menjadi
presiden yang selanjutnya. Hal lain yang melatar belakangi Seoharto diturunkan selah
setunya terjadinya krisis moneter.
Kerusuhan-kerusuhan
terjadi untuk melengserkan Seoharto dari Pucu kepemimpinannya sebagai presiden.
Peristiwa yang paling terkenal yaitu Trisakti di mana para mahasiswa melakukan demonstrasi
besar-besaran terhadap tututan untuk menurunkan Seoharto menjadi presiden. Pada
tanggal 21 mei 1998, Seoharto menyatakan mundur sebagai seorang presiden, dan kemudian
pangku presiden diserahkan kepada wakilnya pada saat itu yaitu B.J. Habibie. Dari
peristiwa berarti berakhirnya Orde Baru dan mulainya era reformasi.
Komentar
Posting Komentar