Hitam Putih Pergundikan Tangsi

Penulis             : Reggie Baay
Penyunting      : Dahlia Isnani
Penerjemah      : Siti Hertini Adiwoso
ISBN               : 979-3731-78-8
Halaman          : 300
Penerbit           : Komunitas Bambu

Nyai dan Pergundikan di Hindia Belanda
Hitam Putih Pergundikan Tangsi
oleh :
Dian Utoro Aji, Sej. Mud
            Setelah kejatuhan Napoleon, dalam Konvensi London ditentukan bahwa Hindia Belanda kembali ketangan Belanda. Oleh karena hal tersebut disusun rencana untuk  membentuk sebuah tentara Hindia Belanda sendiri. Pada tanggal 4 Desember 1830 dibentuklah sebuah tentara kolonial melalui Algemene Order (Perintah Umum).
               Pada awalnya pasukan ini hanya terdiri delapan korps. Masing-masing memiliki satu batalyon infanteri, satu kompi kavaleri, dan empat buah artileri gunung. Keseluruhan berjumlah 13.000 serdadu "bawahan" dan Perwira berpangkat rendah serta 640 periwira. Untuk kesekian lama tidak ada kejelasan mengenai nama pasukan ini.
               Pada 1836, enam tahun setelah didirikan, atas perintah Raja Williem I pasukan ini mendapat gelar koninklijk milik kerajaan. Namun dalam prakteknya nama tambahan ini tidak digunakan untuk waktu lama dan pasukan ini hanya biasa disebut tentara Hindia (Timur) atau tentara colonial. Koninklijk Nederlands Indisch Leger (KNIL) berada di bawah kementerian Penjajahan. Karena adanya larangan konstitusional untuk mengirimkan dinas wajib militer ke colonial, maka KNIL juga merupakan tentara professional. Para serdadu ini direkrut dari penduduk Eropa dan Pribumi. Untuk perekrutan serdadu Eropa dilakukan di Belanda, sedangkan bagian yang memusatkan perhatian di Belanda didirikan di Harddewijk, Belanda.
               Kedatangan calon serdadu yang datang di Hardewijk untuk mengabdi kepada kolonial Belanda hanya terdiri dari sedikit golongan, mereka adalah kumpulan petualangan, orang miskin, orang asosial dan criminal. Karena ini menjadikan Hardewijk dijuluki sebagai "lubang got" Eropa. Selain lewat Hardewijk yang terlanjur memiiliki reputasi buruk, di awal abad 19 terdapat cara lain untuk menjadi calon serdadu dan pergi ke Hindia Belanda. Dengan hal ini mereka dapat masuk melalui Korps Koloniale Reserve di Nejigemen. Bagian ini yang mengurus perekrutan serdadu untuk keperluaan sejak tahun 1890. Pilihan ini bertujuan supaya serdadu yang dikirim lebih baik, dan melalui pengawasan yang lebih baik pula.
               Dalam depot atau tangsi di Hindia Belanda berkumpul para relawan Eropa dan serdadu Pribumi yang memiliki latar belakang beragam. Kehidupan tangsi bukan sakadar pertemuan dan percampuran antar dua bangsa dan budaya yang berbeda, namun antara laki-laki dan perempuan yang tinggal bersama didalamnya. Demi memenuhi besar akan tenaga serdadu, maka mereka diijinkan untuk melanjutkan hubungan di tangsi-tangsi meski dengan setangah hati. Hal ini diputuskan pada 1836 sesaat setelah tentara kolonial didirikan. Pada 1887, Jendral Haga, pemimpin KNIL pada waktu itu, menulis surat kepada menteri Penjajahan L.W.Ch. Keuchenius yang anti revolusi. Di dalam suratnya menekankan pentingnya pergundikan dalam perekrutan serdadu pribumi.
               Keadaan tersebut sudah pasti memicu kemarahan tentara kolonial pribumi dan eropa yang masih lajang. Dengan beberapa syarat merekan pun diizinkan hidup bersama tanpa pernikahan dengan perempuan Pribumi dalam tangsi. Hal yang mencolok adalah bahwa sebagian besar laki-laki yang menikah justru mereka lebih menyukai pergundikan. Pada 1888, dari 13. 062 anggota militer Eropa KNIL hanya yang menikah 147, dan 2.930 yang hidup dalam pergundikan (sisanya masih mlajang).
               Tangsi-tangsi tentara KNIL tersebar diseluruh kepulauan Nusantara. Di jawa banyak terdapat kompleks militer yang berisi penuh, sedangkan didaerah luar jawa terdapat tangsi-tangsi yang lebih sedikit, pos-pos penjagaan diisi oleh sekitar 20orang. Selain istri dan Nyai, anak-anak mereka juga tinggal didalam kompleks tersebut. Dibeberapa daerah aman, seperti Jawa, para perwira eropa tinggal bersama keluarga mereka diluar tangsi.
               Kegiatan didalam tangsi dimulai pagi-pagi. Pukul lima terompet ditiup dan semua bangun tidur, mandi, berpakian lalu sarapan. Setelah apel jam enam pagi, jam kerja bagi laki-laki pun di mulai.Biasanya yang disebut dengan dinas keluar berlangsung sekitar 3 - 4 jam. Setelah istirahat selama selama setengah jam merekapun mengikuti kegiatan yang lebih ringan seperti senam, latihan bertempur, dan pelajaran teori. Yang menjadi ciri khas pergundikan tangsi adalah bahwa perempuan dan anak anak dalam tangsi wajib tunduk pada disiplin dan peraturan militer(Reglement op Dent Inwendigen Dienst).
               Seorang Nyai tangsi berperan mengurus rumah tangga laki-laki yang hidup dalam pergundikan bersamanya. Sang moentji yang memasak makanan, mencuci, berbelanja dan membersihkan chambree. Tidak hanya itu, moentji juga tidur dengannya dan melahirkan anak-anaknya. Bagi perempuan Pribumi menjadi Nyai merupakan sebuah dilema sosial yang sangat penting, bukan hal sepele mengingat dunia Pribumi tempat mereka berasal. Hidup mereka sebagai gundik seorang kafir, seorang eropa yang tidak bertuhan, merendahkan diri mereka didepan bangsa sendiri serta menempatkan diri mereka diluar masyarakat.
               Kebanyakan nyai di dalam tangsi tentara kolonial berumur antara 12-35 tahun. Bukan hal yang aneh jika seorang anak perempuan berumur 12 sudah hidup dalam pergundikan. Sebenarnya usia menikah bagi anak perempuan Pribumi waktu itu adalah sekitar 13 tahun. Di tengah masyarakat Pribumi, ada banyak gadis sesuai ini sudah dinikahi lewat perjodohan atau siap untuk menikah. Para gadis Indo-Eropa pada umumnya menjalin pergundikan pada usia yang lebih tua.

               Terlepas dari sisi kelamnya, jika dilihat sekilas, pergundikan tangsi Hindia Belanda adalah sebuah lembaga yang tersusun rapi. Namun pada pelaksanaanya, terdapat kondisi yang tidak jarang menimbulkan masalah, baik moral maupun fisik. Hal ini menimbulkan banyak protes keras, tidak hanya dikolonial tetapi juga di Belanda. Bahkan sampai diajukan sebagai pertanyaan oleh parlemen di Belanda.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sederet Cerita Kesaktian Mbah Jenggolo Murid Sunan Kudus yang Jadi Cikal Bakal Desa Janggalan

Ketika Sejarah Dikendalikan Oleh Penguasa Orde Baru

Mengenal Alas Lamin, Pati, Konon Ada Lubang Bekas Pembantaian yang Masih Misteri