Orde Baru Dalam Kontroversi
Orde Baru Dalam Kontroversi
Ketika
Sejarah Dikendalikan Oleh Penguasa
Oleh :
Dian Utoro Aji.
Sej.
Penulis
dalam hal ini berupaya untuk menyajikan suatu kondisi di mana ketika runtuhnya
orde lama dan kemudian terbentuknya orde baru. Kondisi tersebut secara
implimsip ada dua aspek yang dilakukan oleh penguasa orde baru. Yaitu dari segi
melemahkan penguasa orde lama dan melebihkan penguasa orde baru. Dalam hal ini
sejarah masa orde baru dikendalikan oleh penguasa untuk melegitimasi penguasa
saat itu. Tidak jauh berbeda ketika masa Indonesia kuno banyak penguasa seperti
raja yang memiliki unsur mitologi, atau unsur yang melebihkan keadaan suatu raja yang memiliki
hal yang lebih sehingga diagungkan oleh seluruh masyarakat.
Orde
baru merupakan di mana runtuhnya Seokarno dan kemudian naiknya Soeharto sebagai
pucuk pimpinan di Indonesia. Banyak hal yang dilakukan di masa Seoharto salah
satunya adalah legitimasi kekuasaan terhadap sejarah khusunya buku pendidikan
sejarah guna untuk memperkuat dirinya(Soeharto), sebagai sosok orang nomor satu
di Indonesia. Legitimasi terhadap buku pelajaran sejarah menyangkut hal- hal
yang kontroversial seperti Supersemar, Serangan Umum 1 maret 1949, Lahirnya
Pancasila, dan seterusnya tetapi juga menyangkut sudut pandang perspektif
sejarah.
Pada
masa awal Orde Baru strategi pengendalian sejarah mencakup dua hal; pertama,
mereduksi peran Soekarno dan kedua, membesar - besarkan jasa Soeharto. Tindakan
untuk membesarkan peran Soeharto dilakukan melalui buku sejarah dan media lainya
seperti film. Salah satunya adalah film Serangan 1 maret 1949 yang dibesar -
besarkan bahkan dibuatkan monumen untuk mengenang peristiwa tersebut. Di buku -
buku sejarah dikesankan bahwa konseptor serangan itu adalah Seoharto, padahal
dua minggu sebelumnya Soeharto diminta oleh Sri Hamengkubuwana IX ke kraton
Yogya. Jadi dapat dapat diketahui bahwa ide tersebut sebetulnya dari Sri Sultan
HB IX. Foto yang merekam juga dipasang pada monumen yang dibangun beberapa
kilometer dari kota Yogyakarta. Jadi peran Sri Sultan sengaja dihilangkan.
Selanjutnya
tentang kasus Gerakan 30 September, sejak 1998, film tentang Gerakan 30
September tidak wajib disiarkan semua saluran televisi setiap tanggal 30
September malam, tampaknya untuk menghindari kontroversi yang timbul di tengah
masyarakat tentang apa yang terjadi di balik kudeta tahun 1965. Namun keputusan
tersebut sebetulnya belum menyelesaikan
persoalan terutama dari segi penulisan dan pengajaran sejarah di Indonesia.
Selama ini yang diajarkan di sekolah adalah versi resmi peristiwa tersebut yang
dikeluarkan oleh aparat keamanan dan pemerintah.
Sejarah Nasional
Indonesia (SNI) merupakan buku teks di perguruan tinggi sekaligus bahan acuan
penulisan buku Sejarah tingkat SD sampai sekolah lanjutan atas. Sejak revormasi
1998, muncul gugatan terhadap teks sejarah era Orde Baru yang banyak buku yang
isinya berbeda bahkan bertentangan dengan versi pemerintahan. SNI jilid 6 yang
disunting Nugroho Notosusanto ternyata menuai banyak kritik. Dari daftar isi
jilid ini saja, terlihat aspek militer yang menonjol. Diplomasi dikritik tetapi
perjuangan bersenjata dipuji. Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI)
yang dipimpin seorang sipil disinggung hanya satu kalimat tetapi puja - puji
terhadap Jendral Sudirman berbaris baris. Seakan pelaku sejarah diberi
kesempatan membela dari pada buku yang dikatakan buku standar.
Penulis buku
Pelurusan Sejarah Indonesia beranggapan bahwa pelurusan sejarah Indonesia harus
terus dipertahankan dan dilanjutkan dari sejarawan Orde Baru sampai sekarang
tetap ada, antara lain terlihat pada edisi mutakhir Sejarah Nasional Indonesia
(2008) yang memperlihatkan bahwa sejarah masih ditulis dengan versi lama dan
pendekatan lama. Selama ini yang diajarkan di sekolah adalah versi resmi
peristiwa tersebut yang dikeluarkan oleh aparat keamanan dan pemerintah.
Sejarah menurut E. H. Carr, sejarah adalah proses berkesinambungan dari
interaksi antara sejarawan dan fakta - fakta yang dimilikinya, suatu dialog
yang tidak berkesudahan antara masa sekarang dengan masa lampau. Jadi tidak ada
tulisan atau buku sejarah yang final. Dalam kasus Gerakan 30 September
sebetulnya tidak ada interpretasi akhir dan tunggal terhadap peristiwa
tersebut.
Disadari bahwa
fungsi sosial - politik dari sejarah tidak sama pada seluruh masyarakat di
dunia. Di Jepang ada buku sejarah yang menyebut tahun 660 sebelum masehi
sebagai tahun penciptaan negeri Sakura oleh Dewi Amaterasu. Ketika bukti
arkeologi menunjukkan bahwa itu tidak benar, kalangan nasionalis ektrem
bereaksi keras. mereka mempertanyakan keabsahan bukti tersebut (P. Souyri Le
moyen Age Japanois, Histoire et Eeriture de I’ histoire, 1984).
Contoh tersebut
menunjukan bahwa demi kepentingan tertentu, sejarah bisa direkayasa. Tahun
1968, terbit buku sejarah karya Ienago Saburo. Pemerintah Jepang tidak melarang
buku ini, akan tetapi minta supaya dilakukan 216 modifikasi atau penghilangan,
serta 38 penambahan, antara lain karena di situ tidak diberikan “yustifikasi”
keterlibatan Jepang dalam Perang Dunia II sejak tahun 1941.
Dengan demikian
dapat diketahui bahwa peran penguasa di masa orde baru sangat penting sekali
bagi proses pengendalian sejarah secara khusus pendidikan sejarah. Semoga
tulisan ini bermanfaat bagi pembaca, dan apabila ada kata maupun informasi yang
kurang penulis mengucapkan banyak minta maaf. Terima kasih….
Komentar
Posting Komentar