Penumpasan PKI di Sekitar Pati

Kesaksian Terhadap Pertempuran Tentara, Penumpasan PKI di Sekitar Pati
oleh : Dian Utoro Aji
Pendidikan Sejarah, Unnes

Mengenai tejadinya pertempuran tentara Siliwangi dengan tentara Merah yang terjadi di daerah Beketel, Pati. Hal ini disebabkan karena kondisi saat itu tahun 1948 merupakan tahun perjuangan terberat bangsa Indonesia dalam mempertahankan kemerdekaan. Keadaan politik dalam negeri yang kurang kondusif serta belum bersatunya elemen masyarakat Indonesia terhadap satu ideologi bangsa yaitu pancasila juga turut serta menghambat perkembangan bangsa. Persetujuan Renville pada 17 januari 1948 memicu krisis politik. Amir Syarifudin dan kabinetnya dianggap tidak becus. Pada tanggal 23 januari 1948, Presiden Soekarno membubarkan kabinet dan menunjuk wakil presiden Mohammad Hatta membentuk kabinet baru yang sangat anti komunis. Menanggapi keadaan tersebut, pada tanggal 26 februari 1948 PKI mengadakan rapat umum di Surabaya yang hasilnya membentuk Front Demokrasi Rakyat (FDR) yang berisi semua partai beraliran kiri, dipimpin oleh Amir syarifudin. Kebijakan Hatta yang banyak berseberangan dengan kepentingan komunis membuat FDR semakin aksi propanganda, boikot, sabotase atau pemogokan. Kesatuan dan persatuan yang sangat diperlukan menghadapi Belanda mendapat tikaman dari belakang. Mereka pun menyusun basis kekuatan militer di Madiun. Untuk itu semua pasukan TNI yang pro FDR mulai ditarik dari front pertempuran untuk ditempatkan disana.
Sementara itu, dengan kesediaan Republik Indonesia untuk melaksanakan persetujuan Renville yaitu dengan mengundurkan pasukan-pasukannya dari daerah-daerah yang telah diduduki Belanda di Jawa Barat, Jawa Timur, dan Sumatera, memaksakan pasukan TNI dari divisi Siliwangi untuk hijrah dari Jawa Barat ke Jawa Tengah. Hal ini menyebabkan konfrontasi antara FDR dan TNI semakin meruncing. Saat pertentangan politik santar FDR dengan pemerintah semakin tajam, tiba-tiba munculah seorang tokoh komunis bernama Muso di Indonesia. Setelah kedatangan Muso ke Indonesia membuat kelompok militer PKI di Madiun melakukan kudeta. Pemberontakan Partai Komunis Indonesia (PKI) di Madiun September dilancarkan ketika Indonesia sedang bersiap menghadapi agresi Belanda yang bermaksud menguasai daerah Republik Indonesia yang masih tersisa di Jawa dan Sumatera. Untuk menumpas pemberontakan PKI, Jendral Soedirman memerintahkan Kolonel Gatot Subroto di Jawa Tengah dan Kolonel Sungkono di Jawa Timur.[1]
Sedangkan di Jawa Barat peristiwa hijrahnya Divisi Siliwangi ke  Jawa Tengah. Hal ini terjadi dikarenakan kesedian Republik Indonesia untuk melaksanakan Renville menimbulkan kekecewaan dan ketidakpuasan pucuk pimpinan kesatuan – kesatuan TNI yang harus “diundurkan”. Panglima besar mengintruksikan supaya tidak menggunakan istilah “mundur” namun menggunakan istilah “hijrah” untuk pengunduran pasukan TNI dari kantong – kantong gerilya. Instruksi panglima tersebut memiliki dampak yang psikologi yang besar. Pasukan yang hijrah yakin bahwa hal itu adalah suatu strategi perjuangan, sama halnya dengan kisah Nabi Muhammad SAW yang harus hijrah dari Mekkah ke Madinah, dan suatu saat kembali ke Mekkah dengan suatu kemenangan.
Pada tanggal 4 Februari 1948 Panglima Besar Sudirman berpidato di depan corong RRI Yogyakarta. Pidato ini ditujukan kepada segenap prajurit TNI yang sedang bertugas di kantong – kantong gerilya di daerah – daerah telah diduduki Belanda. Panglima besar menyatakan :
“Dengan ditandatanganinya persetujuan gencatan senjata perang, yang pertama – tama harus dipentingkan ialah kepentingan negara di atas kepentingan sendiri. Namun demikian, Angkatan Perang tidak boleh membatalkan janjinya sebelum kemerdekaan Indonesia tercapai penuh, Angkatan Perang tidak akan menghentikan perjuangannya. Tentara harus tetap memperlihatkan sikap disiplinnya, dan jangan dapat dipengaruhi oleh siapapun juga, oleh karena itu kedaulatan dan kemerdekaan negara harus dibela. Tentara harus menjalankan denga sebaik – baiknya setiap perintah yang diberikan, akan tetapi harus mempertahankan diri jika diserang. Semboyan kita adalah: Sedia setiap saat, perjuangan yang kita hadapi masih jauh. Mata dunia ditujukan kepada kita dan kita harus memperlihatkan sampai mana kesanggupan kita untuk menepati perjanjian yang dibuat oleh kita”[2]
Jendral Sudirman membantah berita – berita yang menyatakan bahwa tentara Republik sudah tidak sanggup melanjutkan perlawanan. Ia membantah: “Bagaimana juga berat perjuangan ini, Yang Maha Kuasa akan berada di pihak yang benar, dan sekali janji telah diberikan, janji itu akan dipenuhi.
Pimpinan Angkatan Perang Yogyakarta mengerti sikap divisi Siliwangi dan menyadari kemungkinan Siliwangi akan enggan hijrah ke Jawa Tengah. Akan tetapi, karena itu merupakan keputusan politik negara, perintah itu mau tak mau harus ditaati oleh segenap jajaran tempur Divisi Siliwangi.
Di tahun 1948 tersebut, Angkatan Perang RI (dan pegawai negeri) melakukan Reorganisasi dan Rasionalisasi (ReRa). Kebijakan yang digariskan Kabinet Hatta adalah menyusun tentara yang lebih efisien dan berada di bawah satu komando, dan menjadikannya alat negara yang tangguh terhadap agitasi politik dari luar. Hatta ingin memotong garis politik kelompok FDR. ReRa Angkatan Perang berhasil memperkecil jumlah TNI, dari tujuh divisi menjadi empat, tapi daya tempurnya lebih baik. 
Dengan ReRa ini, TNI-Masyarakat yang dibangun Amir Syarifudin ketika ia masih menjabat Menteri Pertahanan dan Perdana Menteri, dibubarkan. TNI-Masyarakat ini merupakan tandingan bagi TNI yang semula hanya merupakan Biro Perjuangan di Kementerian Pertahanan. Biro ini dan TNI-Masyarakatnya didominasi perwira-perwira yang berhaluan komunis. Kesatuan-kesatuan yang dipengaruhinya dan sempat dilengkapi persenjataan terbaik ini diharapkan menjadi andalan kekuasaan politik sayap kiri itu. Setelah dibubarkan pada 29 Mei 1948, kesatuan ex TNI-Masyarakat dilebur ke dalam Divisi-Divisi TNI, pada Kesatuan Reserve Umum (KRU), sebagai kekuatan cadangan strategis RI.
Rekonstruksi juga diadakan dengan peran strategis TNI untuk menghadapi agresi militer Belanda. Strateginya diubah, tidak lagi menggunakan konsep perang yang lama. Konsep lama yang konvensional menjadikan pengalaman pahit bagi TNI yang dipukul telak oleh Belanda. Dengan konsep yang baru, serangan musuh tidak akan lagi dihadapi langsung secara mati-matian.
Perlawanan awal TNI dilakukan sebagai penghambat guna memberi peluang induk kekuatan TNI dan unsur-unsur pemerintah melakukan persiapan di daerah perlawanan-wehrkreise untuk melancarkan perang wilayah. Akan digelar perang gerilya semesta di seluruh pulau Jawa dan di wilayah yang luas di Sumatera untuk jangka waktu yang tidak ditentukan. Divisi Siliwangi ditugaskan melancarkan infiltrasi jarak jauh kembali ke daerah juang asalnya, berperang gerilya bersama rakyat.
Adapun peristiwa yang terkaitan dengan pertempuran Tentara Siliwangi yang sebelum peristiwa tersebut hingga di daear – daerah terpencil seperti di Beletel, Pati. Pertempuran tersebut terjadi di Solo, tanggal 13 September pecah peristiwa Solo, yakni tawuran antara pasukan Siliwangi (kesatuan reserve umum TNI) dengan pasukan TNI setempat dari Komando Pertempuran Panembahan Senopati yang telah diinfiltrasi FDR/PKI. Dalam rencana FDR/ PKI yang tertuang dalam dokumen “Menginjak Perjuangan Militer Baru”, kota Solo hendak dijadikan ”Wild West”, untuk menyesatkan perhatian atas rencana militer besar yang sebenarnya. Tetapi provokasi PKI ini dapat diatasi pasukan-pasukan yang setia kepada pemerintah.
Peristiwa tersebut berdampak terhadap daerah – daerah lain. Pada akhir bulan Nopember 1948, seluruh operasi penumpasan PKI termasuk daerah-daerah sebelah utara Surakarta yaitu Purwodadi, Cepu, Blora, Pati, Kudus, dan lain-lain, selesai. Gerakan PKI dipadamkan dalam tempo 65 hari.
Dari peristiwa tersebut memiliki dampak bagi Tokoh Negara yaitu Amir Syarifuddin. Amir Syarifuddin pernah menempati sejumlah posisi penting saat Indonesia baru merdeka. Dia pernah menjadi Menteri Penerangan, Menteri Pertahanan, bahkan Perdama Menteri Republik Indonesia. Tapi hasil perjanjian Renville memutar nasib Amir 180 derajat.
Saat itu Amir menjadi negosiator utama RI dalam perjanjian itu. Isi perjanjian Renville memang tak menguntungkan RI. Belanda hanya mengakui Yogyakarta, Jawa Tengah dan Sumatera. Maka Amir dikecam kiri-kanan. Kabinetnya jatuh. Dia kemudian bergabung dengan Muso dalam Negara Republik Soviet Indonesia di Madiun tanggal 19 September 1948.
Saat pemberontakan Madiun dihancurkan TNI, Amir melarikan diri. Dia akhirnya ditangkap TNI di hutan kawasan Purwodadi. Tanggal 19 Desember 1948, bersamaan dengan Agresri Militer II, Amir ditembak mati bersama para pemberontak Madiun yang tertangkap.
Dari peristiwa tersebut dapat diketahui bahwa peristiwa sebelum tiba di daerah Purwodadi, Grobokan, yang telah disaksikan oleh warga Beketel, Pati tentang adanya para tentara yang bertempur didaerahnya, dan bahkan sembunyi – sembunyi di daerah Beketel, Pati tersebut.



[1] Himawan Soetanto, Yogyakarta Jendral Spoor Versus Jendral Sudirman,( Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2006), hal 101
[2] Himawan Soetanto, Yogyakarta Jendral Spoor Versus Jendral Sudirman,( Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2006), hal 111

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sederet Cerita Kesaktian Mbah Jenggolo Murid Sunan Kudus yang Jadi Cikal Bakal Desa Janggalan

Ketika Sejarah Dikendalikan Oleh Penguasa Orde Baru

Mengenal Alas Lamin, Pati, Konon Ada Lubang Bekas Pembantaian yang Masih Misteri