Wali Sembilan dalam Kontroversi
Wali Sembilan dalam Kontroversi
Dalam masyarakat Islam jawa, dikenal dengan sembilan wali yakni Sunan
Giri, Sunan Cirebon, Sunan Gesang, Sunan majagung,
Syaikh Lemah Abang, Sunan Undung, Sunan Bonang, Sunan Drajat, dan Sunan Kalijaga. Kita tidak mempermasalahkan siapa masing masing mereka sebenarnya.
Di mata masyarakat Islam jawa, para wali juga dianggap dan diperlakukan sebagai manusia luar biasa, yang dapat ikut mengalami kehidupan
ilahi. Oleh karena itu, kepadanya dilakukan
pelbagai mukjizat. Dongeng - dongeng tentang mukjizat yang dilakukan
oleh para wali seperti tercantum
dalam Babad Jawa/Serat Kanda dan yang beredar dalam masyarakat, terlalu banyak, tidak lain dari gambaran masyarakat jawa yang bersumber
pada kehidupan para resi pada zaman Hindu Jawa. Para wali menikmati
penghormatan seperti para resi dalam masyarakat Islam jawa. Apapun yang tercipta terlaksana.
Semisal tentang Sunan Giri, diceritakan dalam Babab Tanah Jawi bahwa ia dalam menghadapi bala tentara majapahit
hanya melemparkan kalamnya.
Kalam tersebut berubah menjadi keris yang bergerak tanpa tangan dan menikam para pemimpin regu. Bala tentara majapahit
lari ketakutan. Dalam Serat Kanda, diceritakan bahwa Sunan Cirebon memberikan badong kepada panglima tentara demak yang melawan tentara majapahit. Ketika Badong tersebut,
dihunus di medan perang, keluarlah ribuan tikus dan angin rebut. Tikus tikus tersebut menghabiskan makanan bala tentara majapahit, sedangkan
angin ribut merobohkan pohona - pohonan dan merusak segala bangunan milik orang majapahit. Tentang Sunan Bonang, diceritakan bahwa ia berupa empat memenuhi empat kiblat, ketika ia menghadap Raden Said yang membegalnya ditengah jalan, melihat peristiwa tersebut Raden Said segera menyembah
kepada Sunan Bonang.
Sumber bacaan : Muljana, Slamet. 2005. Runtuhnya Hindu - Jawa dan Timbulnya Negara - Negara Islam di Nusantara. Yogyakarta: LKiS Yogyakarta.
Komentar
Posting Komentar