Penyempurnaan Masjid Demak,
Penyempurnaan
Masjid Demak,
Kontroversi
Saka Tal Masjid Demak, Hingga Sunan Kalijaga Kaitannya
Dalam Proses Kegiatan Pembelajaran Sejarah di SMA
Oleh
: Dian Utoro Aji, Sej.
Dalam tulisan ini, penulis berupaya
untuk menyajikan tulisan mengenai sejarah penyempurnaan masjid Demak, yaitu
mengenai kontroversi saka tal sampai
mengungkap dugaan siapa sebenarnya Sunan Kalijaga itu. Demak sebagai ibu kota
negara Islam perlu diperindah. Perhatian Jin Bun terutama ditujukan pada
penyempurnaan masjid Demak, yang pembangunannya sudah mulai sejak Jin Bun
menetap di Demak dan membuka hutan Bintara. Boleh dipastikan bahwa pada masa
sebelum jatuhnya kerajaan Majapahit wujud masjid Demak itu sederhana sekali,
tidak lebih dari masjid masjid Tionghoa lainnya.
Pada tahun 1474, ketika Jin Bun dan
Kin San dalam perjalananya dari Palembang ke Majapahit mendarat di Semarang, ia
singgah di masjid Islam Tionghoa yang dirikan oleh masyarakat Islam Tionghoa
Semarang, pada masa pelaksanaan ekspansi politik dan dagang, yang direncanakan
dan dipimpin oleh laksamana Cheng Ho. Pada tahun 1413, laksamana Cheng Ho
pernah mengunjungi masjid tersebut sambil menunggu selesainya kapalnya yang
sedang diperbaiki di galangan kapal Semarang. Namun, ketika Jin Bun pada tahun
1474 datang di masjid tersebut, keadaanya telah berubah. Masjid Semarang itu
telah dijadikan klenteng Sam Po Kong. Jin Bun kemudian berdoa agar ia diizinkan
di masa depan membangun masjid yang tidak akan dirubah menjadi klenteng seperti
masjid yang berubah menjadi kelenteng tersebut.
Tiga tahun setelah penundukan
Majapahit, kapten Cina Gan Si Cang di Semarang menyampaikan permohonan kepada
bupati Kin San untuk ikut serta menyelesaikan pembangunan masjid Demak. Tukang
– tukang kayu Tionghoa di galangan kapal Semarang bermaksud untuk mengadakan
kerja sukarela atau bakti demi menyelesaikan masjid agung. Permintaan tersebut
diterima dengan baik oleh Kin San, dan diteruskan kepada Jin Bun. Jin Bun tidak
keberatan untuk menerima kerja bakti para tukang kayu digalangan kapal,
meskipun mereka bukan orang Islam. Demikianlah pembangunan masjid agung Demak
itu dikerjakan oleh tukang – tukang kayu Tionghoa dari galangan kapal Semarang.
Mereka memang ahli dalam mengerjakan kayu. Masjid agung Demak dibuat seluruhnya
dari kontruksi kayu. Salah satu di antara saka gurunya dibuat dari kepingan –
kepingan kayu yag disusun sangat rapi dan sangat tepat menurut kontruksi tiang
kapal, yang harus dapat menahan angin ribut di laut. Saka guru tersebut disebut
dengan saka tal. maksudnya tiang dari
tatal. Pada hakikatnya, bukan dari tatal tetapi dari kepingan kayu yang
pemasangannyaa diatur rapi menurut kontruksi pembuatan tiang kapal.
Dalam Babad Tanah Jawi dan Serat
Kanda, saka tal dikatakan ciptaan Sunan Kalijaga. Atasa dasar tersebut
kiranya bahwa Sunan Kalijaga dapat diidentifikasi dengan Gan Si Cang, kapten
Cina di Semarang pada tahun 1478. Di bawah pengawasannya tiang tatal dibikin
oleh tukang – tukang kayu dari galangan kapal Semarang. Konon Sunan Kalijaga
itu dimakamkan di Kadilangu di daerah Semarang. Kiranya penunjukan Kadilangu
sebagai makam Sunan Kalijaga itu memperkuat dugaan bahwa Sunan Kalijaga identik
dengan Gan Si Cang, kapten Cina Semarang dan putra Gan Eng Cu alias Teja dari
Tuban. Bagaimanapun, Gan Si Cang adalah saudara Nyi Ageng Manila, istri Bong
Swi Hoo alias Sunan Ngampel. Sunan Kalijaga juga dikatakan ipar Sunan Ngampel
dan bernama Raden Said ketika masih muda.
Komentar
Posting Komentar