Sejarah Kemerdekaan

Sekitar Proklamasi Kemerdekaan Indonesia,
Perbedaan Pendapat Kelompok Tua Dengan Kelompok Muda  Terhadap Kemerdekaan
Oleh : Dian Utoro Aji 
Pendidikan Sejarah, Unnes

Perbedaan Pendapat Mengenai Kemerdekaan
Sejak berdirinya organisasi pergerakan Nasional pertama, yakni Boedi Oetomo hingga masa pendudukan Jepang, kaum pergerakan terbagi menjadi dua kelompok, yakni kelompok tua dan kelompok muda. Pembagian dikotomis itu ternyata tidak hanya sekedar pembagian askriptif berdasarkan kreteria umur belaka tetapi juga memiliki makna yang lebih dalam yakni perbedaan psikologis, sosiologis, dan politis. Secara psikologis golongan tua lebih bersikap hati – hati, dan penuh perhitungan dalam bertindak, sehingga dimata anak muda dianggap kurang cepat dalam bertindak, sementara golongan muda sebaliknya bertindak hantam kromo, kurang berfikir tetapi cepat bertindak, dan sebagai pandangan orang tua sering bersikap ceroboh. Secara sosiologis mereka terbagi ke dalam dunianya orang tua dan dunianya anak muda. Dunia orang tua umumnya sudah bekerja telah memiliki anak istri atau keluarga, dan secara umum hidupnya telah mapan, mereka terlibat dalam struktur, dan ruang geraknya sangat ditentukan oleh keinginan struktural. Sementara itu anak muda umunya belum memiliki perkejaan tetap, belum bekeluarga, sehingga hidupnya menjadi lebih bebas sehingga tindakannya tidak terlalu diatur tatanan – tatanan dalam struktur sosial yang mengikat. Secara politis kelompok tua umumnya bersifat moderat sedangkan kelompok muda cenderung bersifat revolusioner.
Dalam peristiwa menjelang kemerdekaan Indonesia dikotomi antara kedua kelompok itu ternyata muncul dan merebak ke permukaan hingga sempat terjadi ketegangan di antara mereka. Ketegangan itu muncul sebagai akibat perbedaan pandangan tentang saat diumumkan proklamasi kemerdekaan Indonesia. Ketegangan itu bermula dari berita tentang menyerahnya Jepang pada sekutu tanggal 15 Agustus 1945. [1]
Berita tentang menyerahnya Jepang kepada sekutu meskipun masih dirahasiakan oleh para bala tentara pendudukan, sudah banyak diketahui orang. Pada tanggal 14 Agustus petang, Sutan Syahrir membawa berita kepada Hatta dan menanyakan bagaimana masalah kemerdekaan Indonesia sehubungan dengan peristiwa tersebut. Jawaban Hatta adalah bahwa soal kemerdekaan ada di tangan bangsa Indonesia sepenuhnya. Syahrir menyarankan agar kemerdekaan itu sekali – sekali jangan diumumkan oleh Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia, namun oleh Soekarno sendiri sebagai pemimpin melalui radio. Sebabnya adalah karena kemerdekaan yang diumumkan oleh panitia Persiapan Kemerdekaan akan dianggap oleh pihak sekutu sebagai hadiah dari Jepang. Jadi, Indonesia merdeka adalah buatan Jepang. Sutan Syahrir merupakan tokoh pertama yang mendesak supaya proklamasi kemerdekaan Indonesia segera dilaksanakan oleh Soekarno – Hatta tanpa harus menunggu janji Jepang. Agar tidak mengecewakan Syahrir, diajanya datang ke rumah Bung Karno. Oleh Bung Hatta dijelaskan maksud kedatangan Sutan Syahrir, akan tetapi Bung Karno belum dapat menerima maksud Syahrir dengan alasan bahwa Bung Karno hanya bersedia melaksanakan proklamasi, jika telah diadakan pertemuan dengan anggota PPKI yang lain. Sehingga dengan demikian tidak menyimpang dari rencana sebelumnya yang telah disetujui oleh pemerintah Jepang. Selain itu Soekarno akan mencoba dulu untuk mengecek kebenaran berita itu sebelum mengadakan tindakan yang menentukan demi masa depan bangsanya.
Namun dengan hal tersebut bagi golongan muda tetap memiliki pendapat bahwa tidak segarusnya para pejuang kemerdekaan Indonesia menunggu – nunggu berita resmi dari pemerintah pendudukan Jepang. Bangsa Indonesia harus segera mengambil inisiatifnya sendiri untuk menentukan strategi mencapai kemerdekaan.
Pada tanggal 15 Agustus pukul 8 diadakan rapat di sebuah ruangan di Bacteoriologisch Laboratorium Pegangsaan timur, dihadiri oleh beberapa pemuda : Choirul Saleh, Darwis, Djoharnur, Kusnandar, Subardio, Margono, Aidit, Sunyoto, Abu Bakar, Eri Suwedo, Wikana, dan Armansjah.[2] Rapat ini dipimpin oleh Choirul Saleh, dalam pertemuan ini memutuskan bahwa kemerdekaan Indonesia adalah hak dan soal rakyat Indonesia sendiri, tidak dapat digabungkan pada bangsa atau negara lain. Bangsa Indonesia, menurut anggapan mereka, sudah matang untuk merdeka. Satu – satunya jalan adalah melalui proklamasi kemerdekaan oleh bangsa Indonesia sendiri, lepas dari bangsa dan negara mana pun juga.  Sesuai dengan janjinya kepada Syarir, hari berikutnya Hatta mencari keterangan dari Gunseikanhu tentang penyerahan Jepang. Setelah yakin bahwa berita penyerahan Jepang memang benar, Hatta mengambil keputusan untuk mengundang Panitia Persiapan Kemerdekaan.
Oleh Wikana dan Darwis, hasil dari pertemuan tersebut disampaikan kepada Ir. Soekarno jam 22.30 waktu jawa jaman Jepang (22.00 wib) kediamannya, Jalan Pegangsaan Timur, no 56 Jakarta. Tetapi sampai saat itu Bung Karno belum bersedia melepaskan keterkaitannya dengan Jepang, yang berarti belum bersedia memproklamasikan kemerdekaan Indonesia tanpa PPKI. Dalam hal ini terjadi perdebatan sengit antar Bung Karno dengan Wikana dan Darwis. Perdebatan tersebut Wikana menuntut agar proklamasi dikumandangkan oleh Soekarno pada keesokan harinya. Tuntutan tersebut diikuti dengan ancaman bahwa jika tidak segera diproklamasikan kemerdekaan akan terjadi pertumpahan darah. Mendengar tekanan tersebut, Soekarno menjadi marah dan melontarkan kata – kata yang kurang lebih sebagai berikut: “Ini leherku, Saudara boleh membunuh saya sekarang juga. Saya tidak bisa melepaskan tanggung jawab saya sebagai ketua PPKI”[3]. Jawaban Bung Karno diluar dugaan dan sangat mengejutkan. Selain itu Bung Karno juga mempersilahkan golongan muda untuk memproklamasikan kemerdekaan Indonesia tanpa dirinya (golongan tua). Meskipun demikian para pemuda tidak berani memproklamasikan kemerdekaan Indonesia tanpa Bung Karno dan Bung Hatta karena khawatir apa yang dilakukan tidak mendapat dukungan dari rakyat.
Melihat sikap Soekarno tersebut, para pemuda berdasarkan rapatnya yang berakhir pada pukul 00.30 waktu Jawa jaman Jepang (pukul 24.00 WIB) tanggal 16 Agustus 1945 di Asrama Baperpi, Cikini no 47, Jakarta, akan menculik Soekarno dan Hatta untuk dibawa keluar kota.[4] Keputusan tersebut diambil dalam rangka untuk mengamankan Bung Karno dan Bung Hatta agar tidak mendapat pengaruh dari Jepang. Di sinilah nampak sekali bahwa kebersamaan/persatuan sangat diperlukan dan hal itu sudah diperlihatkan oleh para pemuda yang tidak bersedia melaksanakan proklamasi kemerdekaan Indonesia dengan pertimbangan bahwa apa yang dihasilkan tanpa kebersamaan tidak akan mendapatkan dukungan dari seluruh lapisan masyarakat, yang berarti akan mendatangkan perpecahan.
Pagi – pagi buta sekitar puku 04.00 tanggal 16 Agustus 1945 Soekarno – Hatta diculik oleh Sudanco Singgih dan Sukarni di bawa ke Rengasdengklok, kira – kira 15 km dari karawang (Harian Kompas 3-9-1981 : IV-V). Pemilihan Rengasdengklok sebagai tempat pengamanan Soekarno – Hatta, didasarkan pada perhitungan militer. Antara anggota Peta Daidan Purwakarta dan Daidan Jakarta terdapat hubungan erat sejak latihan bersama. Secara geogarfis, Rengasdengklok letaknya terpencil, yakni masuk 15 km ke arah dalam dari Kedung Gede. Karawang pada jalan raya Jakarta – Cirebon. Dengan demikian dapat dilakukan deteksi dengan mudah terhadap setiap gerakan tentara Jepang yang hendak datang ke Rengasdengklok, baik yang datang dari arah Jakarta, maupun dari arah banding atau Jawa Tengah.
Sementara itu di Jakarta telah terjadi kesepakatan antara golongan tua yakni Ahkmad Subardjo dengan Wikana dari golongan muda untuk mengadakan proklamasi di Jakarta dan Laksamana Tadashi Meda bersedia menjamin keselamatan mereka selama berada di rumahnya. Berdasarkan kesepatan tersebut itu Jusuf Kunto dari pihak pemuda dan Subardjo yang diikuti sekretaris pribadinya, Mbah Diro (Sudiro) menuju ke Rengasdengklok untuk menjemput Soekarno. Rombongan tiba pada pukul 18.00 waktu jawa jaman Jepang (pukul 17.30 WIB). Akhmad Subardjo memberikan jaminan dengan taruhan nyawa kepada para pemuda bahwa proklamasi kemerdekaan Indonesia akan diumumkan pada tangal 17 Agustus 1945 selambat – lambatnya pukul 12.00 WIB. Akhirnya komando Cudanco Subeno bersedia melepaskan Soekarno dan Hatta kembali ke Jakarta.



[1] Drs. Cahyo Budi Utomo, M.Pd, Dinamika Pergerakan Indonesia dari Kebangkitan hingga Kemerdekaan, (Semarang, IKIP Semarang Press, 1995), 212
[2] Prof. Dr. Slamet Muljana, Kesadaran Nasional dari Kolonialisme Sampai Kemerdekaan, (Yogyakarta: LkiS, 2008), 32
[3] Drs. Cahyo Budi Utomo, M.Pd, Dinamika Pergerakan Indonesia dari Kebangkitan hingga Kemerdekaan, (Semarang, IKIP Semarang Press, 1995), 215
[4] Rapat ini dihadiri oleh pemuda yang sebelumnya telah mengadakan rapat di Ruangan Lembaga Bakteriologi, Pegangsaan Timur tersebut. Selain itu juga dihadiri sejumlah pemuda, yakni Sukarni, Jusuf Kunto, dr. Murwadi dari barisan Pelopor dan Shodanco Singgih dari daidan Peta Jakarta Sju. Bersama Chaerul Saleh mereka telah bersepakat untuk melaksanakan keputusan rapat itu, yakni menyingkirkan Ir. Soekarno dan Muh Hatta ke luar kota untuk menghindari mereka dari segala pengaruh Jepang. Yang mendapat tugas untuk melaksanakan tugas ini adalah Shodanco Singgih.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sederet Cerita Kesaktian Mbah Jenggolo Murid Sunan Kudus yang Jadi Cikal Bakal Desa Janggalan

Ketika Sejarah Dikendalikan Oleh Penguasa Orde Baru

Mengenal Alas Lamin, Pati, Konon Ada Lubang Bekas Pembantaian yang Masih Misteri